Temuan tersebut berasal dari investigasi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Leles 2, Sukasirna. Berdasarkan hasil uji laboratorium, menu tumis pakcoy yang disajikan pada 16 April 2026 diketahui mengandung kadar nitrit jauh di atas ambang batas aman yang ditetapkan standar internasional.
BACA JUGA : Balita Meninggal di Cianjur, Diduga Terkait MBG, BGN: Tunggu Hasil Lab
Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, menyebut kadar nitrit yang petugas temukan mencapai 169 kali lipat dari batas aman konsumsi harian menurut standar The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA).
“Jika merujuk batas maksimum JECFA untuk nitrit, yakni 0,07 mg/kg berat badan per hari. Tumis pakcoy tersebut mengandung 11,85 mg/kg, maka temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas batas aman,” ujar Arie dalam keterangan resminya, Senin (11/5/2026).
Menu MBG Negatif Bakteri Berbahaya
Meski ada temuan cemaran kimia berupa nitrit, hasil uji Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Jawa Barat menyatakan menu makanan tersebut negatif dari kontaminasi bakteri berbahaya seperti Salmonella sp, E.Coli, dan Bacillus cereus.
BGN menduga tingginya kandungan nitrit bukan berasal dari proses pengolahan makanan di dapur, melainkan dari faktor eksternal pada bahan baku sayuran sebelum didistribusikan.
Arie menjelaskan, cemaran nitrit bisa berasal dari penggunaan pupuk nitrogen berlebihan. Atau bisa karena air yang tercemar limbah organik, hingga kontaminasi lingkungan di area pertanian.
“Dugaan sumber cemaran lain dapat berasal dari penggunaan pupuk organik atau nitrogen berlebihan, air resapan tercemar kotoran manusia atau hewan. Atau limbah pabrik kimia di sekitar lahan pertanian,” jelasnya.
BGN Peringatkan Dampak Nitrit bagi Kesehatan Anak
BGN menilai hasil investigasi tersebut sangat serius karena berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, terutama bagi anak-anak sebagai penerima manfaat Program MBG.
“Temuan nitrit dinilai sangat serius dan berpotensi berdampak luas pada keamanan pangan,” ucap Arie.
Ia menjelaskan, paparan nitrit berlebih dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen ke seluruh tubuh. Dalam dunia medis, istilah kondisi ini adalah methaemoglobinemia.
“Nitrit dapat memicu kondisi methaemoglobinemia, yakni kondisi ketika kemampuan hemoglobin dalam darah membawa oksigen ke seluruh tubuh menurun,” tegasnya.
Akibat kondisi tersebut, tubuh dapat mengalami kekurangan oksigen sehingga memicu gejala fisik tertentu.
“Akibatnya, tubuh bisa terasa lemas dan muncul sesak napas, karena sel-sel tubuh kekurangan oksigen,” pungkasnya.
Pemerintah Evaluasi Keamanan Bahan Baku MBG
Sebagai tindak lanjut, BGN kini menjadwalkan koordinasi dengan Kementerian Pertanian untuk mengevaluasi standar keamanan bahan baku sayuran dalam Program Makan Bergizi Gratis.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Cianjur juga terus memperketat pengawasan terhadap seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hal ini guna mencegah insiden serupa terulang kembali.
Langkah evaluasi ini untuk memastikan keamanan pangan dalam Program MBG tetap terjaga. Selain itu, menjamin keselamatan para siswa penerima manfaat di Kabupaten Cianjur.***




















