Cianjurtimes – Gelombang aksi unjuk rasa dari kalangan pengemudi ojek online (ojol) diperkirakan akan melanda berbagai wilayah hari ini.
Aksi Demo Ojol ini muncul sebagai respons terhadap besarnya potongan biaya aplikasi yang dianggap memberatkan para pengemudi
Para pengemudi menuntut agar potongan aplikasi tidak melebihi 10%. Aksi serentak ini dijadwalkan mulai pada Selasa, 20 Mei 2025, pukul 13.00 WIB.
Meskipun seruan aksi Demo Ojol bergema secara nasional, dinamika di setiap daerah menunjukkan perbedaan. Di Cianjur, misalnya, para pengemudi ojol dari komunitas Driver Online Cianjur (DOC) memilih untuk tidak turun ke jalan.
Deni Agustin, salah seorang pengemudi ojol dan anggota komunitas DOC, mengungkapkan bahwa partisipasi rekan-rekannya untuk mengikuti aksi di Jakarta sangat minim.
“Di Cianjur sendiri, para ojek online tidak menggelar aksi turun ke jalan. Yang berpartisipasi ikut aksi di Jakarta tidak banyak, hanya tiga orang saja,” ujar Deni Agustin,Selasa (20/5/2025).
Lebih lanjut, Deni menjelaskan bahwa komunitas ojol di Cianjur mengambil langkah yang berbeda dalam menyampaikan aspirasi mereka. Alih-alih melakukan Demo Ojol di jalanan, mereka memilih untuk melakukan aksi non-aplikasi atau yang mereka sebut sebagai “OffBid”.
“Tidak ada aksi ke jalan. Cuma kita hanya tidak menjalankan aplikasi, atau istilahnya OffBid,” tegas Deni.
Namun, Deni mengakui bahwa tidak semua pengemudi ojol di Cianjur sepenuhnya mengikuti seruan “OffBid”. “Tapi ada yang onbid walau tidak banyak,” imbuhnya.
Ia menuturkan, menurut informasi yang dihimpun dari berbagai ketua komunitas ojol di Cianjur yang tergabung dalam Forum Aliansi Ojol Cianjur, terdapat himbauan untuk menonaktifkan aplikasi mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Forum ini menaungi kurang lebih 28 komunitas ojol yang berbeda di wilayah Cianjur.
Ojol Cianjur Berharap Payung Hukum untuk Mitra
Deni Agustin kemudian menyampaikan harapan besar para pengemudi ojol terkait aksi ini. Mereka berharap agar perusahaan aplikasi dapat menurunkan persentase potongan biaya yang selama ini dianggap terlalu tinggi.
“Harapan kita, bisa menurunkan presentase ke driver. Karena sangat besar potongannya. Dulu kan harusnya 20% tapi saat ini, saya pribadi bisa mencapai kurang lebih 30-40%,” keluh Deni.
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, Deni memberikan contoh konkret mengenai besarnya potongan biaya aplikasi yang harus mereka tanggung.
“Misal ongkos dari customer 15 ribu, ke kitanya hanya 8 ribu. Jadi hampir 45 persen,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Selain menuntut penurunan potongan aplikasi, para pengemudi ojol juga memiliki harapan untuk dapat berdialog langsung dengan pihak terkait guna menyampaikan aspirasi mereka.
“Kita pengen audiensi juga. Untuk menyampaikan harapan kami,” kata Deni.
Lebih jauh, Deni juga menyoroti pentingnya regulasi yang dapat melindungi hak-hak pengemudi ojol di tingkat daerah. Ia berharap adanya peraturan daerah (Perda) yang dapat membantu mereka tanpa harus selalu bergantung pada kebijakan di tingkat nasional.
“Kalau bisa ada perda yang membantu kita juga kalau susah harus menuju ke Jakarta atau Nasional. Supaya ada penyamaan tarif, supaya aplikasi tidak ada persaingan,” pungkas Deni Agustin.
Aksi Demo Ojol dan berbagai bentuk penyampaian aspirasi dari para pengemudi di berbagai daerah ini menjadi sorotan penting terkait kesejahteraan dan keadilan bagi para pekerja di sektor transportasi daring. Perkembangan lebih lanjut dari tuntutan ini akan terus dipantau.(*)












