CIANJUR TIMES, Cianjur – PT Daya Mas Geopatra Pangrango (DMGP) membekali puluhan mahasiswa Cianjur dengan keahlian teknis energi panas bumi melalui pelatihan intensif yang digelar pada Kamis (30/4/2026). Program ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia lokal dalam mendukung target Net Zero Emission Indonesia 2060.
DMGP menggandeng Energy Green Club dari Himpunan Mahasiswa Tjiandjur (HIMAT) dalam kegiatan bertajuk “Masa Depan Emas Indonesia”.
Pelatihan ini membahas aspek teknis energi panas bumi, mulai dari geologi, geofisika, hingga geokimia. Peserta juga mempelajari alur eksplorasi serta peran energi terbarukan dalam transisi energi nasional.
BACA JUGA : Mahasiswa Cianjur Bahas Konflik Timur Tengah, Perkuat Peran Pemuda dalam Isu Global
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman mahasiswa setelah mengikuti pelatihan, terutama terkait proses eksplorasi dan pentingnya dukungan masyarakat dalam pengembangan energi panas bumi.
DMGP: Mahasiswa Harus Jadi Agen Edukasi
Kepala Teknik Panas Bumi DMGP, Yunis, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan investasi jangka panjang bagi sektor energi nasional.
“Kami ingin mahasiswa Cianjur menjadi sumber informasi yang akurat. Dengan paham teknisnya, mereka bisa mengedukasi masyarakat bahwa panas bumi itu aman dan ramah lingkungan,” ujar Yunis.
Ia menambahkan bahwa perusahaan ingin melibatkan generasi muda dalam pembangunan energi hijau.
“Ini adalah kontribusi nyata kami untuk energi hijau nasional,” tambahnya.
Bagian dari Proyek Strategis Nasional
Saat ini, DMGP tengah mengembangkan wilayah Cipanas melalui Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE). Proyek ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) yang mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia.
Selain fokus pada eksplorasi, DMGP juga menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang menitikberatkan pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sekitar.
Dorong Transisi Energi Berbasis SDM Lokal
Melalui pelatihan ini, DMGP tidak hanya memperkenalkan teknologi energi panas bumi, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat lokal dalam transisi energi.
Mahasiswa diharapkan mampu menjadi jembatan informasi sekaligus motor penggerak edukasi publik, sehingga pengembangan energi panas bumi dapat berjalan selaras dengan dukungan masyarakat.(adv)




















