
Oleh: Andika Rajeswara
Ketua BEM IAI Al-Azhary Cianjur dan Koordinator Isu Umum BEM Nusantara Jawa Barat
Perkembangan ekonomi Indonesia saat ini tidak dapat dipisahkan dari dinamika geopolitik global yang semakin kompleks. Konflik yang melibatkan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah telah memicu ketidakpastian ekonomi dunia, terutama melalui kenaikan harga energi, gangguan rantai pasok internasional, dan fluktuasi pasar keuangan global.
Sebagai negara berkembang, Indonesia turut merasakan dampaknya. Ketergantungan terhadap impor energi dan sejumlah produk berteknologi tinggi membuat perekonomian nasional rentan terhadap gejolak eksternal. Namun, menilai kondisi ekonomi Indonesia hanya dari faktor luar negeri tentu tidak cukup. Persoalan struktural di dalam negeri juga perlu menjadi perhatian.
Ketahanan Energi Masih Menjadi Tantangan
Konflik di Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dunia, terutama karena kawasan tersebut menjadi jalur penting distribusi energi global. Dampaknya langsung terasa pada kenaikan harga energi yang berpotensi menekan APBN, meningkatkan inflasi, dan memengaruhi nilai tukar rupiah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan energi bukan hanya isu ekonomi, melainkan juga bagian dari amanat konstitusi untuk menjamin kesejahteraan masyarakat sebagaimana tercantum dalam Pasal 33 UUD 1945.
Tekanan terhadap Rupiah dan Devisa
Kebutuhan dolar Amerika Serikat untuk impor energi dan barang strategis turut memberikan tekanan terhadap cadangan devisa nasional. Di sisi lain, struktur ekspor Indonesia masih didominasi komoditas berbasis bahan mentah yang menghasilkan nilai tambah relatif rendah.
Ketidakseimbangan ini menunjukkan bahwa kemandirian ekonomi nasional masih menghadapi tantangan serius. Ketika kebutuhan valuta asing meningkat sementara kemampuan menghasilkan devisa belum optimal, stabilitas ekonomi menjadi lebih rentan terhadap gejolak global.
Hilirisasi Harus Lebih Maksimal
Pemerintah telah mendorong program hilirisasi berbagai komoditas strategis. Namun, dalam praktiknya Indonesia masih banyak mengekspor bahan baku dan mengimpor kembali produk jadi dengan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.
Komoditas seperti nikel menjadi contoh nyata. Nilai ekonominya akan jauh meningkat ketika diolah menjadi komponen industri kendaraan listrik dibandingkan dijual dalam bentuk bahan mentah. Karena itu, percepatan industrialisasi berbasis hilirisasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Kritik Harus Tetap Objektif
Dalam sistem demokrasi, kritik terhadap pemerintah merupakan hal yang wajar dan diperlukan. Namun kritik harus dibangun berdasarkan data dan analisis yang komprehensif.
Menyalahkan pemerintah sepenuhnya atas pelemahan ekonomi tentu tidak tepat. Sebaliknya, membebaskan pemerintah dari tanggung jawab dengan alasan faktor global juga merupakan pandangan yang tidak utuh. Kondisi ekonomi saat ini merupakan hasil interaksi antara tantangan eksternal dan persoalan struktural di dalam negeri.
Efektivitas Program Pemerintah Perlu Dievaluasi
Berbagai program strategis nasional pada dasarnya memiliki tujuan yang baik. Namun efektivitas pelaksanaannya perlu terus dievaluasi agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi yang tercatat secara makro belum tentu mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat, penciptaan lapangan kerja berkualitas, maupun pemerataan pembangunan antarwilayah. Oleh karena itu, prinsip efektivitas, akuntabilitas, dan transparansi harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan publik.
Kepastian Hukum dan Pemberantasan Korupsi
Stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan fiskal dan moneter, tetapi juga kepastian hukum. Investor maupun pelaku usaha membutuhkan jaminan hukum yang jelas untuk menjalankan aktivitas ekonomi.
Selain itu, korupsi masih menjadi ancaman serius bagi pembangunan nasional. Praktik penyalahgunaan kewenangan menyebabkan kebocoran anggaran dan menghambat pemerataan kesejahteraan. Karena itu, reformasi birokrasi dan penguatan lembaga penegak hukum harus terus dilakukan secara konsisten.
Penutup
Kondisi ekonomi Indonesia saat ini merupakan hasil dari kombinasi faktor eksternal dan internal. Gejolak geopolitik global memang memberikan tekanan yang tidak ringan, namun tantangan struktural dalam negeri juga perlu segera dibenahi.
Pemerintah perlu memperkuat ketahanan energi, mempercepat hilirisasi industri, meningkatkan investasi di bidang riset dan teknologi, serta memperkuat kepastian hukum. Di sisi lain, masyarakat dan kalangan akademisi perlu terus memberikan kritik yang konstruktif dan berbasis data.
Dengan sinergi seluruh elemen bangsa, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan mengurangi kerentanan terhadap setiap gejolak global yang terjadi di masa mendatang.***
















