Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Berita

Satria, Dalang Cilik dari Cianjur yang Membawa Wayang Golek ke Panggung Nasional

badge-check

Satria, Dalang Cilik dari Cianjur yang Membawa Wayang Golek ke Panggung Nasional Perbesar

CIANJUR TIMES, Cianjur – “Om, lihat deh Cepot.” Dengan wajah penuh antusias, seorang anak laki-laki memperlihatkan wayang berwajah merah khas Sunda yang berada dalam genggamannya. Tokoh Cepot itu bukan sekadar boneka bagi dirinya. Ada cerita, karakter, dan kelucuan yang membuatnya tertarik pada dunia pewayangan.

“Cepot lucu yah Om, bisa buat orang ketawa, terus bodor (lucu) lah. Jadi di sana saya jadi ikutan ketawa juga, padahal kan cuma lihat dan dengar suaranya doang,” tuturnya.

Anak tersebut bernama Satria Atmaja Bumi Anugrah. Siswa SD Palalangon 2 Cianjur itu kini dikenal sebagai Dalang Anom atau dalang cilik dari Kampung Calingcing, Desa Sindang Jaya, Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur.

Di usianya yang masih belia, Satria telah menekuni seni pedalangan dan mendapat kesempatan mengikuti Festival Dalang Anak Nasional 2026. Kegiatan yang berlangsung pada 2–4 November 2026 di Gedung Pewayangan Kautaman, Jakarta, itu menjadi salah satu panggung penting dalam perjalanan seninya.

Bagi Satria, kecintaan terhadap wayang golek tidak tumbuh begitu saja. Ada rasa penasaran, pengalaman menyaksikan pertunjukan, dan dukungan keluarga yang perlahan membawanya mengenal lebih dekat kesenian tradisional Sunda tersebut.

Berawal dari Rasa Penasaran Seorang Anak kepada Wayang

Satria tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan seni tradisional. Ayahnya, Seprudin SAS atau yang akrab disapa Bah Ayong, merupakan pelaku seni tradisional etnik dan perkusi Sunda. Ia juga memimpin Sanggar Saung Seni Alam Tunggal.

Meski memiliki latar belakang seni, Bah Ayong tidak mengarahkan anaknya untuk mengikuti jalan yang sama secara paksa. Ketertarikan Satria terhadap wayang justru berawal dari rasa ingin tahu setelah diajak menyaksikan pertunjukan di daerahnya.

Saat melihat tokoh-tokoh wayang, Satria mulai mengajukan berbagai pertanyaan kepada ayahnya.

“Pak, itu namanya apa kok wujudnya kayak boneka namun berbeda-beda?” tanya Satria kala itu.

Bah Ayong kemudian menjelaskan bahwa benda-benda yang dilihat anaknya merupakan wayang golek. Setiap tokoh memiliki karakter dan watak berbeda, yang dapat dihidupkan melalui gerakan serta suara seorang dalang.

Penjelasan tersebut membuat Satria semakin tertarik. Ia mulai mengenal wayang golek melalui berbagai media audio dan visual. Orang tuanya pun mendukung ketertarikan itu hingga akhirnya menghadiahkan sebuah wayang Cepot.

Dari situlah kedekatan Satria dengan wayang semakin tumbuh. Ia mulai menirukan suara Cepot dan tokoh-tokoh lainnya. Bahkan, ketika sedang sendiri dan tidak memiliki teman bermain, suara-suara yang ditirukannya menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.

Satria tertarik pada kemampuan seorang dalang dalam memainkan banyak karakter suara sekaligus menggerakkan wayang sehingga pertunjukan terasa hidup.

Dukungan Keluarga dan Identitas Sarapala Anom

Bagi keluarga Satria, mengenalkan seni tradisional kepada anak bukan semata-mata tentang mempertahankan kesenian masa lalu. Lebih dari itu, seni menjadi ruang bagi anak untuk mengenali minat, mengembangkan kemampuan, dan belajar memahami nilai-nilai kehidupan.

Dukungan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan Satria bersama Sarapala AUM, sebuah wadah seni perkusi dan etnik yang Bah Ayong jalankan.

Di lingkungan tersebut, Satria hadir sebagai representasi Sarapala Anom. Identitas ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan seni kepada generasi muda sekaligus meneruskan kecintaan terhadap budaya tradisional.

Melalui wayang golek, Satria belajar mengenal karakter tokoh, memainkan gerakan, dan menirukan beragam suara. Aktivitas tersebut juga menjadi ruang untuk mengembangkan kreativitas serta keberaniannya dalam berekspresi.

Dalam pandangan keluarga Satria dan lingkungan seni Sarapala AUM, orang tua memiliki peran penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Budaya menjadi ruang untuk mengenal jati diri, sementara agama menjadi landasan dalam menjalani kehidupan.

Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari filosofi yang ingin keluarga tanamkan kepada Satria. Mereka berharap kecintaannya terhadap seni dapat tumbuh seiring dengan pembentukan karakter dan keteguhan nilai yang ia yakini.

Dari Ciranjang Menuju Panggung Nasional

Kesempatan mengikuti Festival Dalang Anak Nasional 2026 menjadi pengalaman penting bagi Satria. Dari lingkungan tempat tinggalnya di Ciranjang, ia mendapat kesempatan untuk memperkenalkan kemampuan mendalang di hadapan khalayak yang lebih luas.

Festival tersebut bukan hanya tentang kompetisi atau hasil akhir pertunjukan. Bagi seorang anak yang sedang menumbuhkan kecintaan terhadap seni tradisional, kesempatan tampil di panggung nasional juga menjadi ruang untuk belajar, bertemu dengan sesama dalang cilik, dan mengembangkan kemampuannya.

Kehadiran Satria sekaligus membawa nama lingkungan, keluarga, dan komunitas seni yang selama ini mendukung perjalanannya.

Di tengah perubahan zaman dan semakin beragamnya pilihan hiburan anak, kisah Satria memperlihatkan bahwa kesenian tradisional masih dapat menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda. Ketertarikan yang bermula dari sebuah pertanyaan sederhana tentang boneka dengan bentuk berbeda kini membawanya mengenal lebih jauh dunia pedalangan.

Perjalanan Satria tentu masih panjang. Namun, dukungan keluarga dan kesempatan untuk terus belajar menjadi bekal penting dalam mengembangkan minatnya.

Sebelum melangkah lebih jauh, Bah Ayong menitipkan pesan kepada putranya dalam bahasa Sunda:

“Cing junun dina sagalarupina, pagehan ku elmu agamana.”

Pesan tersebut menjadi pengingat agar Satria bersungguh-sungguh dalam menjalani setiap hal yang ia tekuni dan memperkuat diri dengan ilmu agama.

Dari sebuah wayang Cepot yang dahulu merupakan hadiah dari ayahnya, Satria kini melangkah membawa kecintaan terhadap seni pedalangan. Sebuah perjalanan kecil dari Ciranjang yang memperlihatkan bahwa warisan budaya dapat terus hidup ketika diperkenalkan, dicintai, dan diberi ruang untuk tumbuh oleh generasi berikutnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Disdikpora Cianjur Perkirakan Perbaikan 1.000 Ruang Kelas Rusak Berat Butuh 3 Tahun

3 Nov 2026 - 20:52 WIB

Disdikpora Cianjur Perkirakan Perbaikan 1.000 Ruang Kelas Rusak Berat Butuh 3 Tahun

Siswa SDN Karyamukti Cianjur Belajar di Tenda, Ruang Kelas Rusak

3 Nov 2026 - 19:12 WIB

Siswa SDN Karyamukti Cianjur Belajar di Tenda, Ruang Kelas Rusak

BULOG Cianjur Perketat Pengawasan Penyaluran Beras SPHP

3 Nov 2026 - 18:39 WIB

BULOG Cianjur Perketat Pengawasan Penyaluran Beras SPHP

Longsor dan Pergeseran Tanah Terjadi di Dua Kampung Campakamulya Cianjur

1 Nov 2026 - 21:40 WIB

Longsor dan Pergeseran Tanah Terjadi di Dua Kampung Campakamulya Cianjur

BPBD Cianjur Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Hujan

1 Nov 2026 - 21:06 WIB

BPBD Cianjur Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Musim Hujan
Trending di Berita