CIANJUR TIMES, Cianjur – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terus memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah. Salah satu yang terdampak cukup parah adalah Kampung Babakan Nangleng, Desa Cibaregbeg, Kecamatan Cibeber, tempat ratusan warga kini mengandalkan bantuan air bersih setelah sumur-sumur mengering akibat lebih dari 40 hari tanpa hujan.
Sejak pagi, puluhan warga yang didominasi ibu rumah tangga tampak mengantre sambil membawa ember, jeriken, dan galon untuk mendapatkan pasokan air dari mobil tangki Palang Merah Indonesia (PMI). Bantuan tersebut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, minum, hingga mencuci. Sementara untuk mandi, sebagian warga masih memanfaatkan aliran sungai yang debit airnya terus menurun.
Ketua RW 06 Kampung Babakan Nangleng, Ahmad Sanusi, mengatakan kemarau tahun ini terasa lebih cepat dan dampaknya lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya.
“Sumur warga sudah banyak yang kering. Setelah kami mengajukan permohonan bantuan, alhamdulillah air bersih dari PMI akhirnya datang dan sangat membantu kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia menyebutkan, di lingkungan RT 06 sedikitnya 20 kepala keluarga terdampak langsung akibat sumur yang mengering. Namun, ia memperkirakan jumlah tersebut terus bertambah apabila hujan belum turun dalam beberapa pekan ke depan.
“Ini baru bantuan yang pertama. Kalau kemarau masih berlanjut, kami berharap distribusi air bersih bisa terus dilakukan karena kebutuhan warga semakin mendesak,” katanya.
Air Sumur Kering, Warga Kesulitan
Kesulitan serupa dirasakan Iis, salah seorang warga Kampung Babakan Nangleng. Selama hampir satu bulan terakhir, sumur di rumahnya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
“Air di sumur masih ada sedikit, tapi sudah tidak bisa naik. Untuk minum dan memasak kami mengandalkan bantuan air bersih. Kalau mandi dan mencuci, kami terpaksa ke sungai karena di rumah sudah tidak ada air,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cibaregbeg Subuh Basarah mengungkapkan bahwa kekeringan tahun ini terjadi lebih cepat dari musim kemarau sebelumnya. Berdasarkan pendataan pemerintah desa, wilayah Babakan Nangleng, Nangleng Pasar, dan Pasirhupa menjadi kawasan yang paling terdampak.
“Hampir seluruh wilayah desa mulai terdampak kekeringan. Namun yang paling parah adalah Babakan Nangleng, Nangleng Pasar, dan Pasirhupa. Diperkirakan hampir 700 kepala keluarga saat ini membutuhkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” terangnya.
Selain menyebabkan krisis air bersih, kemarau panjang juga mulai mengancam sektor pertanian. Menurunnya debit air irigasi membuat petani belum dapat kembali menggarap sawah setelah musim panen usai. Jika kondisi ini terus berlanjut, situasi tersebut berpotensi menurunkan produksi pertanian di wilayah tersebut.
Pemerintah desa berharap distribusi bantuan air bersih dapat terus berjalan selama musim kemarau. Selain itu, warga juga meminta pemerintah segera merealisasikan solusi jangka panjang, seperti pembangunan sumur bor dan perbaikan jaringan irigasi agar masyarakat tidak terus menghadapi krisis air bersih setiap musim kemarau.
“Untuk jangka pendek kami berharap bantuan air bersih terus berlanjut. Sedangkan untuk jangka panjang, kami sangat membutuhkan pembangunan sumur bor dan sistem irigasi yang lebih baik agar persoalan kekeringan ini tidak terus berulang setiap tahun,” ucapnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Cianjur telah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Kekeringan mulai 15 Juli hingga akhir September 2026 setelah sedikitnya 14 kecamatan terdampak penurunan debit sungai, mata air, dan air tanah.










