CIANJUR TIMES, Cianjur – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Institut Agama Islam (IAI) Al-Azhary Cianjur menggelar Latihan Kader 1 (LK I) di Tempat Wisata Budaya Pandan Wangi, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, pada Jumat (23/10/2026). Salah satu materi yang dibahas dalam kegiatan tersebut adalah metodologi diskusi untuk memperkuat nalar kritis mahasiswa di tengah maraknya disinformasi.
LK I merupakan jenjang awal perkaderan formal HMI yang bertujuan membentuk kader dengan kepribadian Muslim, kemampuan akademis, serta kesadaran terhadap peran dan tanggung jawabnya sebagai kader umat dan bangsa.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mempelajari metodologi diskusi sebagai salah satu materi muatan lokal. Materi ini memperkenalkan tahapan dan kaidah diskusi agar peserta mampu menyampaikan pendapat secara sistematis, menganalisis persoalan, serta menguji gagasan berdasarkan argumentasi dengan tetap bertanggungjawab.
Pemateri metodologi diskusi, Rostandi, menilai kemampuan memahami kaidah diskusi menjadi penting di tengah derasnya arus informasi di media sosial. Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terjebak dalam informasi yang menyesatkan maupun kekeliruan penalaran.
“Melihat situasi carut marut Informasi negatif di media sosial dan kebiasaan manusia yang seringkali terjebak pada Logical Falacy memahami kaidah dialektika menjadi sangat penting sebagai Upaya tanggung jawab sosial kita sebagai Mahasiswa,” ujar Rostandi dalam siaran pers kegiatan tersebut.
Perkembangan teknologi digital membuat masyarakat semakin mudah mengakses dan menyebarkan informasi. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran hoaks, disinformasi, dan narasi provokatif yang dapat memengaruhi cara masyarakat memahami suatu persoalan.
Fenomena post-truth atau pascakebenaran menggambarkan kondisi ketika emosi dan keyakinan subjektif dapat lebih memengaruhi opini publik dibandingkan fakta objektif. Dalam situasi tersebut, kemampuan memeriksa informasi, mengevaluasi bukti, dan menguji argumentasi menjadi penting untuk menghindari kesimpulan yang keliru.
LK I Ajarkan Forum Diskusi Jadi tempat Menguji Gagasan
Melalui materi metodologi diskusi, harapannya peserta LK I memahami bahwa diskusi tidak sekadar menjadi ruang bertukar pendapat. Forum diskusi juga dapat jadi tempat menguji gagasan, menyusun argumentasi secara logis, serta membangun pemahaman melalui pertukaran pandangan yang kritis dan terarah.
Dalam tradisi perkaderan HMI, kemampuan intelektual tersebut berkaitan dengan pembentukan kader yang memiliki orientasi akademis. Serta kepedulian terhadap persoalan umat dan bangsa.
Selanjutnya, saat menutup penyampaian materinya, Rostandi mengajak peserta memanfaatkan forum LK I sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan intelektual.
“Jadikan Forum ini sebagai ajang pengasahan Intelektual. Tidak ada yang lebih merindukan dari pengalaman sebagai peserta LK I di HMI. Untuk itu forum luar bias ini harus dimaksimalkan,” ujarnya.
Kegiatan LK I tersebut menjadi bagian dari proses perkaderan HMI Komisariat IAI Al-Azhary Cianjur. Harapannya, melalui proses ini, peserta dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Selain itu juga menerapkan prinsip diskusi yang baik ketika menghadapi berbagai persoalan sosial, keagamaan, maupun kebangsaan.***








