CIANJUR TIMES, Cianjur – Musim kemarau yang berlangsung hampir tiga bulan mulai berdampak pada pasokan irigasi di Kabupaten Cianjur. Bendung Cisokan di Kecamatan Bojongpicung mengalami penurunan debit air secara drastis sehingga pasokan air untuk sekitar 5.000 hektare lahan persawahan di Kecamatan Bojongpicung, Ciranjang, dan Haurwangi mulai terganggu.
Menurunnya debit air membuat aliran irigasi ke areal persawahan semakin terbatas. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran para petani karena tanaman padi yang sedang memasuki masa pertumbuhan berisiko mengalami kekeringan hingga gagal panen apabila musim kemarau terus berlanjut.
Petugas Bendung Cisokan, Hendra Purnama, mengatakan debit air saat ini mengalami penurunan cukup signifikan akibat tidak adanya hujan dalam beberapa bulan terakhir.
“Untuk debit yang ada di Bendung Cisokan sekarang terjadi penurunan yang signifikan. Untuk hari ini debitnya sekitar 4.202 liter per detik,” ujar Hendra, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan, debit air terendah yang sempat tercatat mencapai 2.952 liter per detik.
“Sudah hampir tiga bulan tidak ada hujan, sehingga debit air menurun cukup drastis. Jika hujan belum turun, debit air diperkirakan akan terus menurun,” katanya.
Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, pengelola irigasi menerapkan sistem gilir-giring atau pembagian air secara bergiliran. petugas UPTD Operasi dan Pemeliharaan (OP) serta P3A Mitra Cai bekerjasama menjalankan sistem tersebut agar seluruh wilayah irigasi tetap mendapatkan pasokan air meskipun dalam jumlah terbatas.
“Untuk mengantisipasi kekeringan bagi para petani, kami menggunakan sistem gilir-giring. Pembagian dilakukan menjadi tiga golongan dan masing-masing mendapatkan giliran selama dua hari,” jelas Hendra.
Melalui sistem tersebut, harapannya, distribusi air dapat berlangsung lebih merata. Terutama bagi lahan pertanian di wilayah hilir yang paling terdampak akibat menurunnya debit Bendung Cisokan.
Pengelola irigasi berharap hujan segera turun agar debit Bendung Cisokan kembali meningkat. Sehingga, pasokan air untuk lahan pertanian di Bojongpicung, Ciranjang, dan Haurwangi dapat kembali normal dan risiko kekeringan dapat berkurang.***










