CUGENANG – Tragedi gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Cianjur pada November 2022 silam ternyata masih menyisakan duka mendalam bagi sebagian warga. Hingga Rabu (4/2/2026), Yayah Sopiah (43) bersama tiga anaknya masih harus bertahan hidup di hunian sementara (huntara) yang sudah mulai melapuk. Berlokasi di Kampung Panumbangan, Desa Cibulakan, Kecamatan Cugenang, keluarga ini terpaksa tinggal di bawah atap terpal dan dinding kayu seadanya karena belum tersentuh bantuan pembangunan rumah.
Kondisi huntara yang tidak layak ini membuat mereka harus bertarung melawan cuaca ekstrem setiap harinya. Saat matahari terik, suhu di dalam tenda terasa sangat panas menyengat, sementara saat hujan turun, air seringkali masuk dan membanjiri area tempat tinggal mereka. Ketidakpastian mengenai bantuan hunian permanen membuat keluarga ini merasa terabaikan di tengah proses pemulihan bencana yang sudah berjalan tiga tahun.
Dampak Buruk Terhadap Kesehatan Anak
Hidup dalam keterbatasan di tenda darurat berdampak serius pada kesehatan anak-anak Yayah Sopiah. Lingkungan yang lembap dan tidak sehat memicu munculnya berbagai penyakit, bahkan salah satu anaknya terdiagnosis mengidap stunting. Meskipun sudah berupaya membawa sang buah hati berobat ke fasilitas kesehatan, Yayah merasa usahanya sia-sia jika kondisi lingkungan tempat tinggal mereka tidak segera berubah menjadi lebih layak.
“Tidak ada bantuan sama sekali dari pemerintah. Kalau hujan selalu banjir, semua pada basah. Kalau berobat sudah, tapi kalau kondisi rumahnya seperti ini mau bagaimana,” ujar Yayah Sopiah dengan nada penuh kepasrahan.
Keinginan untuk memiliki rumah permanen yang aman dari gempa dan cuaca menjadi mimpi yang sulit ia wujudkan secara mandiri mengingat keterbatasan ekonomi keluarganya.
Harapan pada Bantuan Pemerintah
Pekerjaan suami Yayah sebagai juru parkir hanya mampu mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Penghasilan yang pas-pasan membuat mereka mustahil untuk membangun kembali rumah yang hancur tanpa adanya campur tangan pihak terkait. Sebagai bagian dari korban gempa Cianjur yang terdampak paling parah di zona merah Cugenang, Yayah sangat berharap pemerintah segera menindaklanjuti data keluarganya.
Keluarga kecil ini sangat mendambakan kembalinya rasa aman dan hangat di dalam rumah permanen yang layak huni.
“Si bapak mah tukang parkir. Ya mudah-mudahan ada milik dan rezekinya,” pungkas Yayah menutup pembicaraan.***




















