CIANJUR TIMES – Jumlah warga yang menjadi korban kasus keracunan massal di Cianjur kini mencapai 273 orang. Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, menyebutkan bahwa ratusan korban tersebut tersebar di tiga wilayah kecamatan berbeda. Berdasarkan laporan terkini, para korban berasal dari Kecamatan Kadupandak, Sukanagara, dan Cikalongkulon. Meskipun jumlahnya cukup besar, bupati memastikan bahwa secara umum kondisi para pasien saat ini sudah mulai berangsur membaik.
Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan ketat melalui puskesmas dan rumah sakit rujukan. Sebagian besar warga yang sempat mendapatkan perawatan medis kini sudah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Namun, tim medis tetap bersiaga untuk mengantisipasi adanya keluhan kesehatan susulan dari warga setempat.
Sebaran Korban di Tiga Kecamatan
Bupati Wahyu merinci bahwa laporan dari para camat menunjukkan angka yang bervariasi di setiap wilayah. Di Desa Wargasari, Kecamatan Kadupandak, tercatat ada 46 siswa sekolah dasar yang mengalami gejala usai menyantap menu tertentu. Selain itu, wilayah Cikalongkulon menyumbang angka tertinggi dengan 225 orang yang harus mendapatkan penanganan di Puskesmas Cijagang dan Puskesmas Cikalongkulon.
“Laporan dari para camat total warga yang mengalami gejala mencapai sekitar 273 orang. Namun secara umum, kondisi pasien berangsur membaik dan sebagian sudah pulang dari fasilitas kesehatan,” ujar Wahyu pada Rabu (28/1/2026). Ia juga menambahkan bahwa di Kecamatan Sukanagara terdapat dua murid SDN Sukarame yang masih menjalani perawatan karena mengeluh mual dan pusing.
Menunggu Hasil Laboratorium Provinsi
Pemerintah Kabupaten Cianjur saat ini masih menunggu kepastian penyebab utama kasus keracunan massal di Cianjur ini. Tim kesehatan sudah mengirimkan berbagai sampel makanan ke Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Barat. Wahyu menjelaskan bahwa jenis makanan yang para korban konsumsi cukup bervariasi, sehingga hasil laboratorium sangat penting untuk menentukan sumber racun yang sebenarnya.
“Hingga kini, beberapa sampel makanan dari beberapa sekolah tersebut telah dikirim ke Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi untuk pemeriksaan,” kata Wahyu. Ia menekankan pentingnya akurasi data sebelum mengambil kebijakan lebih lanjut. “Untuk laporan makanan yang dikonsumsi bervariasi, ada yang hanya mengonsumsi satu jenis makanan, ada pula yang mengonsumsi makanan lain,” pungkasnya.***












