CIANJUR TIMES – Insiden dugaan keracunan MBG di Cikalongkulon mengakibatkan sebanyak 204 orang warga melaporkan gejala gangguan kesehatan serius pada Selasa (27/1/2026) malam. Mayoritas korban merupakan anak-anak usia di bawah 10 tahun yang berstatus sebagai siswa SD dan PAUD di wilayah Cikalongkulon. Selain para pelajar, sejumlah orang tua murid yang ikut mencicipi hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut juga harus dilarikan ke puskesmas karena mengalami mual hebat, pusing, hingga muntah-muntah.
Tim medis dan aparat kepolisian bekerja ekstra keras melakukan pendataan. Sedlain itu penanganan intensif juga berlangsung seiring terus bertambahnya pasien hingga pukul 20.00 WIB. Pihak otoritas kesehatan membagi penanganan di dua titik utama, yakni Puskesmas Cijagang dan Puskesmas Cikalongkulon. Hal ini guna memastikan seluruh warga mendapatkan pertolongan pertama dengan cepat.
Investigasi Aroma Ayam Suwir pada Menu MBG
Kapolsek Cikalongkulon, AKP Arif Titim Firmanto, menyatakan bahwa pihak kepolisian tengah melakukan investigasi mendalam terhadap menu makanan yang para siswa konsumsi. Berdasarkan laporan warga, muncul kecurigaan pada lauk ayam suwir yang tercium aroma tidak sedap sebelum dikonsumsi. Polisi telah mengamankan seluruh sisa makanan untuk dilakukan uji laboratorium guna mengungkap penyebab pasti dari peristiwa memilukan ini.
“Saat ini kami memfokuskan investigasi pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang para siswa konsumsi. Karena informasi dari warga ada berbau dari ayam suwir,” ujar AKP Arif Titim Firmanto saat menjelaskan fokus penyelidikannya.
Ia menegaskan bahwa pembuktian ilmiah menjadi prioritas utama tim penyidik saat ini. “Sampel makanan telah diamankan untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti keracunan massal ini,” ucap dia.
Fokus Stabilitas Pasien di Puskesmas
Kepala Puskesmas Cijagang, Ujang Ruhyat, menegaskan bahwa prioritas tim medis saat ini adalah menjaga stabilitas kondisi fisik ratusan pasien yang terdampak dugaan keracunan di Cikalongkulon ini. Sebanyak 189 pasien tercatat masuk ke Puskesmas Cijagang. 33 di antaranya harus menjalani rawat inap karena kondisi yang belum memungkinkan untuk pulang. Sementara itu, 15 pasien lainnya mendapatkan penanganan di Puskesmas Cikalongkulon dengan pengawasan ketat dari tenaga kesehatan.
“Kami masih dalam proses observasi dan penanganan medis, sehingga belum bisa memberikan data jumlah pasti korban,” ungkap Ujang.
Pihaknya berkomitmen untuk terus memantau setiap pasien hingga gejala mual dan muntah benar-benar mereda.
“Fokus kami adalah memastikan semua warga yang mengalami gejala mual dan muntah tertangani dengan cepat,” pungkasnya.***












