CIANJUR TIMES, Campakamulya – Kelangkaan gas elpiji subsidi 3 kilogram (kg) mulai berdampak pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Cianjur Selatan.
Sejumlah pengrajin gula aren di Kecamatan Campakamulya dilaporkan menghentikan produksi akibat sulitnya mendapatkan pasokan gas sejak sepekan menjelang Lebaran 2026.
Salah satunya dialami Agus Ramlan (41), pengrajin gula aren di Kampung Warnasari, Desa Sukabungah. Ia menyebut harga elpiji di tingkat pengecer mengalami kenaikan signifikan.
“Sebelum satu pekan mau Lebaran pasokan aman, bahkan harganya pun cukup normal yakni berkisar Rp 19 hingga Rp20 ribu/ tabung. Namun saat ini gas elpiji susah, bahkan harganya mencapai Rp28 ribu,” katanya, Minggu (5/4/2026).
BACA JUGA : Gas LPG 3 Kg di Cianjur Langka, Harga Tembus Rp35 Ribu Usai Lebaran
Produksi Terhenti, Pekerja Dirumahkan
Akibat kondisi tersebut, Agus terpaksa menghentikan produksi selama dua hari terakhir dan meliburkan pekerjanya.
“Para karyawan saya sudah tidak bekerja selama dua hari, padahal mereka upahnya berdasarkan jumlah produksi gula aren. Kita biasa memproduksi gula aren sebanyak empat sampai lima ton per minggu,” katanya.
Ia kini mempertimbangkan kembali menggunakan kayu bakar agar tetap dapat memenuhi permintaan pasar.
“Kalau susah terus seperti ini saya akan berencana pindah pakai kayu bakar, dari pada harus kehilangan pelanggan, dan kontrak dengan beberapa perusahaan, solusinya pakai kayu bakar,” ujarnya.
DPRD Akan Panggil Pihak Terkait Bahas Kelangkaan Elpiji
Menanggapi kondisi tersebut, Komisi II DPRD Kabupaten Cianjur berencana menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan sejumlah pihak terkait.
Ketua Komisi II DPRD Cianjur, Aziz Muslim, mengatakan pihaknya akan memanggil Hiswana Migas, Pertamina Patra Niaga, serta Diskumdagin untuk mencari penyebab kelangkaan.
“Dipastikan antara hari Rabu dan Kamis,” katanya.
Ia menyebut, DPRD akan melakukan penelusuran langsung ke lapangan untuk memastikan distribusi elpiji berjalan sesuai ketentuan.
“Nanti kita akan mengajak Diskumdagin untuk turun ke lapangan ke agen-agen yang ada di Kabupaten Cianjur. Nanti setelah itu kita akan rumuskan solusinya seperti apa,” ucap Aziz.
Masyarakat Beralih ke Kayu Bakar
Aziz juga menyoroti adanya warga yang mulai menggunakan kayu bakar sebagai alternatif akibat efek kelangkaan elpiji.
“Hari ini saya melihat di medsos, masyarakat banyak yang memosting mereka mengambil kayu bakar, meski itu menjadi alternatif, tapi menurut saya itu adalah sebuah sindiran kepada pemerintah, hari ini yang terjadi di masyarakat bahwa gas cukup langka,” tuturnya.
Ia menilai, hingga saat ini elpiji 3 kg masih menjadi kebutuhan utama masyarakat dan belum tergantikan secara optimal oleh alternatif lain.
“Seperti yang tadi saya sampaikan bawha terkait gas, sampai hari ini belum tergantikan meski ada isu bahwa nanti akan diganti dengan kompor listrik, menurut saya belum efektif untuk hari ini,” pungkasnya.***




















