CIANJUR TIMES – Palang Merah Indonesia Kabupaten Cianjur mengirimkan empat orang relawan tangguh untuk membantu proses pencarian korban bencana longsor di Kabupaten Bandung Barat pada Senin (2/2/2026). Pengerahan Tim Evakuasi PMI Cianjur ini lengkap dengan berbagai peralatan pendukung guna mempercepat proses evakuasi di lapangan. Langkah ini merupakan bentuk respon cepat terhadap musibah pergerakan tanah yang melanda Desa Pasirlangu demi meringankan beban tim relawan lokal.
Para relawan yang berangkat memiliki kualifikasi khusus dan pengalaman luas dalam menangani medan bencana yang sulit. Sebelumnya, personel yang sama juga pernah terjun langsung menangani dampak banjir dan longsor di Sukabumi pada akhir tahun lalu. Kini, mereka membawa misi kemanusiaan untuk menyisir area terdampak bersama tim gabungan dari Basarnas.
Keahlian Personel PMI Cianjur dan Kelengkapan Alat Evakuasi
Ketua PMI Cianjur, Ahmad Fikri, menegaskan bahwa personel yang berangkat membawa perlengkapan teknis seperti gergaji mesin hingga kantong jenazah. Kehadiran tim ini diharapkan mampu mengefektifkan pencarian di titik-titik yang sulit terjangkau oleh alat berat. Selain tim yang sudah berada di lokasi, pihak PMI juga menyiapkan gelombang relawan cadangan yang siap berangkat sewaktu-waktu apabila kondisi di lapangan semakin memburuk.
“Hari ini relawan Cianjur berangkat ke lokasi bencalam alam longsor di Kabupaten Bandung Barat, bergabung dengan tim relawan lainnya guna membantu tim gabungan Basarnas di lokasi,” ujarnya.
Ia menjamin bahwa seluruh anggota Tim Evakuasi PMI Cianjur tersebut sudah mengantongi sertifikat keahlian resmi.
“Kami akan menyiagakan relawan lainnya guna dikirim ke lokasi ketika dibutuhkan secara mendadak, dimana saat ini sejumlah relawan sudah menyatakan siap untuk diberangkatkan,” tambahnya.
Ekspansi Bantuan Hingga Wilayah Sumatera
Selain membantu penanganan bencana di Jawa Barat, organisasi kemanusiaan ini juga memperluas jangkauan bantuan hingga ke Pulau Sumatera. Pihak manajemen telah memberangkatkan satu unit tangki air bersih beserta enam orang relawan untuk mengatasi krisis air di wilayah terdampak. Hingga saat ini, dua orang relawan bahkan masih menetap di Aceh untuk mengelola sistem pemurnian air bersih bagi para pengungsi.
Ahmad Fikri menyatakan bahwa koordinasi dengan PMI Pusat dan Provinsi tetap berjalan intensif untuk memantau kebutuhan personel di luar daerah. Jika terdapat instruksi tambahan, para staf ahli siap memberikan kontribusi terbaik mereka di lokasi bencana mana pun.
“Kami sudah siap termasuk sejumlah staf yang memiliki keahlian dengan sertifikat, menyatakan kesiapan berangkat ketika dibutuhkan,” pungkasnya.***




















