CIANJUR TIMES, Cianjur — Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Cianjur untuk mengevaluasi penerapan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sosial. Identitas Cianjur sebagai Tatar Santri dinilai perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari penguatan pendidikan karakter hingga kepedulian terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Presiden Mahasiswa Institut Agama Islam (IAI) Al-Azhary Cianjur, Andika Rajes, mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober sebagai ruang refleksi, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Menurut Andika, kebanggaan terhadap identitas Tatar Santri perlu diiringi upaya bersama untuk memperkuat akhlak, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Cianjur dikenal sebagai Tatar Santri, tetapi kita tidak boleh berhenti pada kebanggaan atas sebuah identitas. Kita harus berani bercermin dan bertanya apakah nilai-nilai keagamaan, akhlak, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moral benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat,” ujar Andika.
Tatar Santri Perlu Diwujudkan dalam Kehidupan Sehari-hari
Andika menilai, Tatar Santri bukan hanya identitas historis dan kultural yang diwariskan dari generasi ke generasi. Identitas tersebut juga perlu menjadi pedoman dalam membangun kehidupan masyarakat yang menjunjung nilai kemanusiaan, keadilan, dan kepedulian sosial.
Menurutnya, berbagai persoalan seperti perjudian daring, kekerasan seksual, dan eksploitasi membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, lembaga pendidikan, pesantren, keluarga, serta masyarakat sipil.
Namun, persoalan sosial tersebut tidak dapat serta-merta menjadi bukti bahwa nilai-nilai santri telah memudar di tengah masyarakat. Fenomena tersebut justru perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pendidikan karakter, literasi digital, pengawasan sosial, serta perlindungan terhadap kelompok rentan.
“Jangan sampai Tatar Santri hanya menjadi identitas yang terdengar megah dalam pidato, tetapi kehilangan daya hidupnya dalam realitas sosial. Kita perlu berani mengakui persoalan, memperbaiki keadaan, dan memastikan nilai-nilai luhur yang kita banggakan benar-benar menjadi pedoman hidup bersama,” katanya.
Ia menambahkan, masyarakat yang religius bukan berarti terbebas dari seluruh persoalan. Kekuatan masyarakat juga tercermin dari kemampuannya menghadapi masalah, melindungi korban, dan mendorong penyelesaian yang adil.
Pencegahan Judi Online Membutuhkan Kerja Bersama
Andika turut menyoroti perjudian daring yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap kondisi ekonomi keluarga dan kehidupan sosial masyarakat.
Menurutnya, kemudahan akses terhadap perjudian melalui perangkat digital perlu ada keseimbangan dengan edukasi publik, peningkatan literasi digital, dukungan keluarga, dan penegakan hukum sesuai kewenangan masing-masing pihak.
Selain itu, persoalan kekerasan dan eksploitasi seksual memerlukan pendekatan yang tidak berhenti pada kecaman moral. Upaya pencegahan, perlindungan korban, pendampingan, serta penanganan sesuai ketentuan hukum harus menjadi bagian dari respons bersama.
Pemerintah daerah, lanjutnya, perlu memperkuat program pembinaan generasi muda, pendidikan keluarga, dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan serta keagamaan agar masyarakat memiliki ruang yang sehat untuk belajar, berkegiatan, dan mengembangkan potensi.
“Kalau kita serius mempertahankan identitas Tatar Santri, persoalan sosial tidak cukup dijawab dengan ceramah dan imbauan. Harus ada kerja nyata, program pencegahan yang terukur, pendidikan yang relevan dengan tantangan zaman, serta evaluasi berkala,” ungkapnya.
Hari Santri Jadi Momentum Evaluasi Kebijakan
Andika menilai, Pemerintah Kabupaten Cianjur memiliki peran strategis dalam menerjemahkan nilai-nilai yang menjadi kebanggaan daerah ke dalam program pembangunan.
Ia mendorong agar peringatan Hari Santri tidak hanya tergambar dari kemeriahan acara dan jumlah peserta, tetapi juga dari upaya berkelanjutan yang manfaatnya dapat masyarakat rasakan.
Sejumlah hal yang menurutnya perlu menjadi perhatian meliputi penguatan pendidikan karakter, peningkatan literasi digital, pencegahan perjudian daring, perluasan akses layanan pengaduan dan perlindungan korban, serta penyediaan ruang produktif bagi generasi muda.
Ia juga menilai, pelibatan pesantren, organisasi mahasiswa, serta organisasi kepemudaan. Selain itu juga dengan komunitas masyarakat juga penting agar program pencegahan persoalan sosial dapat menjangkau berbagai kelompok.
Andika turut mendorong pemerintah melakukan pemetaan masalah berdasarkan data, menetapkan indikator keberhasilan yang jelas, serta mengevaluasi program secara berkala.
“Pemkab Cianjur perlu menjadikan Hari Santri sebagai titik tolak untuk mengevaluasi kebijakan dan memperkuat kolaborasi. Kita membutuhkan bukti bahwa identitas Tatar Santri terimplementasikan menjadi pendidikan yang baik, generasi muda yang berdaya, lingkungan yang aman, dan masyarakat yang memiliki kepedulian sosial,” katanya.
Menghidupkan Semangat Tatar Santri untuk Masa Depan Cianjur
Bagi Andika, menghidupkan kembali semangat Tatar Santri bukan berarti meromantisasi masa lalu. Semangat tersebut perlu adanya perwujudan melalui kesediaan menghadapi persoalan masa kini dan membangun masa depan yang lebih baik.
Pesantren, ulama, pemerintah, keluarga, organisasi mahasiswa, dan masyarakat memiliki tanggung jawab sesuai peran masing-masing. Pemerintah perlu memastikan kebijakan dan pelayanan publik berjalan efektif. Sementara lembaga pendidikan dan keagamaan dapat terus memperkuat pendidikan karakter, keteladanan, serta kemampuan generasi muda menghadapi tantangan zaman.
Ia menegaskan, kritik terhadap kondisi sosial Cianjur bukanlah bentuk penolakan terhadap identitas Tatar Santri. Sebaliknya, kritik tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga agar identitas itu tetap bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
“Cinta terhadap Cianjur tidak cukup dengan membanggakan sejarahnya. Cinta terhadap Tatar Santri berarti berani mengoreksi keadaan ketika ada persoalan yang harus kita selesaikan. Jangan sampai kita sibuk merayakan identitas, tetapi abai terhadap realitas yang membutuhkan perhatian bersama,” tuturnya.
Andika mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Hari Santri Nasional 2026 sebagai momentum refleksi dan pembenahan bersama.
“Jika kita bangga menyebut Cianjur sebagai Tatar Santri, mari buktikan kebanggaan itu melalui tindakan nyata. Bukan hanya menjaga nama besarnya dalam sejarah, tetapi juga menjaga nilai-nilainya dalam kehidupan hari ini,” pungkasnya.***










