Menu

Mode Gelap
HMI Cianjur: Pernyataan Cak Imin Berpotensi Mencederai Nilai Inklusivitas NU Dugaan Pelanggaran Etika Mahasiswa KKN, ABC Desak Kampus Perkuat Pembinaan Pemkab Cianjur Catat 100 Warga Keberatan karena Desil Kesejahteraan Berubah PJU Padam di Sejumlah Jalan Nasional Cianjur, Dishub Minta Kemenhub Segera Bertindak Dua Mahasiswa KKN di Cianjur Diamankan Warga Usai Kepergok Bermesraan Kebakaran GBI Nehemia Cianjur, Api Padam Setelah Lima Jam

Opini

HMI Cianjur: Pernyataan Cak Imin Berpotensi Mencederai Nilai Inklusivitas NU

badge-check

HMI Cianjur: Pernyataan Cak Imin Berpotensi Mencederai Nilai Inklusivitas NU Perbesar

Oleh: Ridha Nestu Adidarma
Ketua Umum HMI Cabang Cianjur

Pernyataan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, mengenai kondisi Nahdlatul Ulama (NU) dan latar belakang organisasi mahasiswa sejumlah pengurusnya perlu dilihat secara lebih proporsional.

Sebagai bagian dari organisasi mahasiswa Islam, kami di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Cianjur memandang bahwa mengaitkan kondisi sebuah organisasi keagamaan dengan latar belakang organisasi mahasiswa seseorang berpotensi melahirkan generalisasi. Cara pandang semacam itu justru berisiko menggeser persoalan dari evaluasi substantif terhadap organisasi menjadi sekadar persoalan afiliasi dan latar belakang seseorang.

Bagi kami, persoalan tersebut perlu ditempatkan dalam kerangka akademis, objektif, dan konstruktif. Kritik terhadap sebuah organisasi tentu merupakan bagian dari dinamika demokrasi. Namun, kritik akan jauh lebih bermakna apabila didasarkan pada kinerja, kebijakan, program, serta capaian organisasi, bukan pada organisasi mahasiswa yang pernah menjadi ruang belajar seseorang.

NU sebagai Rumah Bersama

Nahdlatul Ulama merupakan organisasi keagamaan yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan sosial dan keagamaan di Indonesia. NU juga tumbuh sebagai bagian dari dinamika umat yang memiliki latar belakang dan pengalaman yang beragam.

Karena itu, kami memandang NU sebagai rumah bersama yang tidak semestinya membatasi kualitas seseorang berdasarkan asal-usul organisasi mahasiswa ketika ia menempuh pendidikan.

Semangat persatuan tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam QS Ali Imran ayat 103 tentang pentingnya berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah.

Nilai persatuan semestinya menjadi salah satu pijakan dalam melihat kepemimpinan dan perjalanan sebuah organisasi. Perbedaan latar belakang organisasi mahasiswa tidak seharusnya menjadi sekat yang menentukan apakah seseorang layak atau tidak layak berkontribusi dalam sebuah organisasi keagamaan.

Ukuran kinerja seorang pemimpin seharusnya berdasarkan kapasitas, integritas, kebijakan, program kerja, serta kontribusinya terhadap organisasi dan masyarakat.

Jangan Menilai Kepemimpinan dari Afiliasi

Kami menyayangkan apabila persoalan kondisi NU dikaitkan secara langsung dengan latar belakang HMI dari sebagian pengurusnya.

Cara pandang demikian berpotensi menjadi generalisasi yang kurang tepat. Seorang individu memiliki perjalanan intelektual yang kompleks dan tidak dapat direduksi hanya berdasarkan organisasi mahasiswa tempat ia pernah berproses.

HMI, PMII, maupun organisasi mahasiswa Islam lainnya pada dasarnya merupakan ruang kaderisasi yang memiliki tradisi, gagasan, dan pengalaman masing-masing.

Ketika seseorang kemudian berkiprah di ruang yang lebih luas, menilai kontribusinya semestinya berdasarkan apa yang ia lakukan, bukan semata-mata dari mana ia pernah belajar dan berproses.

Karena itu, apabila terdapat persoalan dalam tubuh NU, maka yang perlu kita kritisi adalah persoalannya. Jika terdapat kelemahan dalam kepemimpinan, maka indikator kepemimpinanlah yang harus kita bahas. Jika terdapat persoalan program, maka program tersebut yang harus kita evaluasi.

Bukan organisasi mahasiswa seseorang yang menjadi ukuran utama.

HMI dan PMII Tidak Harus Dipertentangkan

HMI dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) memiliki sejarah panjang dalam perjalanan mahasiswa Islam Indonesia. Keduanya telah melahirkan banyak kader yang kemudian berkiprah di berbagai bidang kehidupan.

Perbedaan organisasi seharusnya tidak otomatis menghasilkan pertentangan.

Kami percaya bahwa alumni berbagai organisasi mahasiswa Islam dapat memberikan kontribusi di ruang yang sama tanpa harus saling meniadakan.

Demikian pula dalam konteks NU. Keberadaan kader dengan latar belakang organisasi mahasiswa yang beragam semestinya dapat dipandang sebagai kekayaan intelektual dan pengalaman yang dapat memperkuat organisasi.

HMI sendiri tidak berkepentingan menjadikan perbedaan latar belakang organisasi sebagai alasan untuk mempertentangkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

Justru, semangat kekaryaan dan kontribusi tempatnya harus berada lebih tinggi daripada sentimen kelembagaan.

Organisasi mahasiswa seharusnya menjadi tempat belajar tentang perbedaan, bukan ruang untuk membangun sekat permanen.

Merawat Semangat Rahmatan lil ‘Alamin di NU

NU memiliki akar sejarah dan kontribusi yang panjang dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Karena itu, kami berharap dinamika yang berkembang di sekitar NU tetap mengarah pada semangat persatuan, kemaslahatan, dan keterbukaan.

NU harus tetap menjadi bagian dari wajah Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam—rahmatan lil ‘alamin—. Bukan menjadi ruang yang dipersempit oleh kepentingan figur maupun kelompok tertentu.

Dalam konteks inilah, kami memandang pernyataan yang menghubungkan kondisi NU dengan latar belakang organisasi mahasiswa seseorang perlu mendapat kajian kembali secara lebih proporsional.

Kritik tetap perlu. Perbedaan pandangan juga merupakan sesuatu yang wajar. Namun, kritik seharusnya menjadi pintu menuju perbaikan, bukan memperlebar jarak antarkelompok.

Tokoh politik, organisasi mahasiswa Islam, kader NU, kader HMI, kader PMII, dan seluruh elemen umat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga ruang publik tetap sehat.

Kita membutuhkan lebih banyak narasi yang membangun, bukan narasi yang memperkuat sekat primordial.

Pada akhirnya, NU terlalu besar untuk dipahami hanya dari latar belakang organisasi mahasiswa seseorang. Begitu pula HMI dan PMII terlalu bernilai untuk ditempatkan dalam pertarungan identitas yang saling meniadakan.

Mari menilai seseorang dari gagasan, integritas, karya, dan kontribusinya.

Sebab organisasi yang besar bukanlah organisasi yang hanya terdiri orang-orang dari satu latar belakang. Melainkan, organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan.

Ridha Nestu Adidarma
Ketua Umum HMI Cabang Cianjur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Dugaan Pelanggaran Etika Mahasiswa KKN, ABC Desak Kampus Perkuat Pembinaan

29 Agustus 2026 - 12:47 WIB

ABC

Menjaga Identitas Cianjur sebagai Tatar Santri di Tengah Arus Modernisasi

13 Juni 2026 - 19:42 WIB

Kota Santri

Analisis Kritis Kondisi Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global

10 Juni 2026 - 19:14 WIB

ekonomi indonesia

Menakar Dampak Perang Iran Terhadap Isi Dapur Warga Cianjur

1 Maret 2026 - 07:13 WIB

perang iran

Satu Tahun Kepemimpinan Wahyu-Ramzi: Membangun Fondasi dari Ketulusan

20 Februari 2026 - 07:57 WIB

kepemimpinan
Trending di Opini