CIANJUR TIMES, Cianjur — Peringatan Hari Juang Polri pada 21 Agustus menjadi momentum bagi Polres Cianjur untuk menelusuri kembali sejarah perjuangan kepolisian di Kabupaten Cianjur.
Salah satu kisah yang tengah ditelusuri adalah peristiwa pengibaran bendera Merah Putih di Cianjur pada 16 Agustus 1945, sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kapolres Cianjur AKBP Akhmad Alexander Yuriko Hadi mengatakan, peringatan Hari Juang Polri ditetapkan berdasarkan keputusan Kapolri sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan kepolisian dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Berdasarkan keputusan Bapak Kapolri, bahwa pada tanggal 21 Agustus diperingati oleh Polri secara khusus sebagai Hari Juang Polri,” ujarnya, Jumat (21/8/2026).
Menurut Alexander, Hari Juang Polri berkaitan dengan deklarasi yang dilakukan tokoh kepolisian M. Jasin di Surabaya. Saat itu, M. Jasin yang masih berpangkat Letnan Satu menyatakan bahwa Polisi Indonesia merupakan bagian dari Negara Republik Indonesia.
Angkat Sejarah Lokal
Namun, dalam peringatan tahun ini, Polres Cianjur juga mengangkat kembali sejarah lokal yang memiliki arti penting dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia.
Alexander mengatakan, berdasarkan penelusuran yang pihaknya lakukan bersama sejarawan asal Cianjur Hendi Jo, terdapat kisah mengenai anggota polisi yang bertugas di Kantor Karesidenan Cianjur pada 16 Agustus 1945.
“Sehari sebelum resmi Negara Republik Indonesia diproklamirkan oleh Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta, sejatinya pada tanggal 16 Agustus 1945, di Cianjur, polisi yang bertugas di Kantor Karesidenan Cianjur telah berani menurunkan bendera Jepang, kemudian mengibarkan bendera Merah Putih,” katanya.
Lokasi yang disebut menjadi tempat pengibaran bendera tersebut merupakan kantor kepolisian Cianjur pada masa itu. Lokasi tersebut kini menjadi Rumah Sakit Tingkat IV Bhayangkara Polda Jawa Barat.
Alexander menyebut, berdasarkan penelusuran awal, pengibaran bendera tersebut dilakukan oleh 67 anggota polisi Cianjur.
“Prosesi menurunkan bendera Jepang dan menaikkan bendera Merah Putih yang dilakukan satu hari sebelum proklamasi pada 16 Agustus 1945 dilakukan oleh 67 anggota polisi di Cianjur pada waktu itu,” ungkapnya.
Meski demikian, Polres Cianjur masih akan melakukan penelusuran lebih lanjut. Hal ini untuk memastikan identitas para anggota polisi yang disebut terlibat dalam peristiwa tersebut, termasuk mencari keluarga maupun keturunannya.
“Kami akan memberikan apresiasi dan melakukan penelusuran terhadap ke-67 anggota Polres Cianjur pada waktu itu. Sekarang keluarganya di mana dan seterusnya,” kata Alexander.
Menurutnya, penelusuran tersebut merupakan bagian dari upaya menghormati para pendahulu sekaligus mendokumentasikan sejarah perjuangan kepolisian di Cianjur.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah. Kami sangat menghargai para pendahulu kami yang telah dengan sangat berani mengibarkan bendera Merah Putih, bukan hanya untuk Cianjur, tetapi untuk Indonesia,” tegasnya.
Sejarawan Dorong Sejarah Polisi Cianjur Masuk Dokumentasi
Sejarawan dan penulis asal Cianjur, Hendi Jo, mengatakan masih banyak peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang belum terdokumentasikan secara lengkap.
Menurutnya, kisah mengenai anggota polisi Cianjur yang disebut mengibarkan Merah Putih sehari sebelum Proklamasi merupakan bagian dari sejarah lokal yang perlu ditelusuri dan didokumentasikan secara lebih mendalam.
“Persoalan kita semua adalah persoalan sejarah. Kita jujur saja sebagai orang yang kadang-kadang tidak bisa menyimpan dokumen dan arsip untuk menjadikan itu sebagai monumen keabadian buat generasi berikutnya,” terangnya.
Hendi mengatakan, berdasarkan penelusurannya, kisah tersebut belum tercatat secara lengkap dalam dokumentasi sejarah Polri.
“Saya menemukan di Pusat Sejarah Polri di Mabes juga belum ada tentang polisi Cianjur ini,” katanya.
Karena itu, ia mendorong agar hasil penelusuran tersebut nantinya sampai kepada Mabes Polri sehingga dapat menjadi bagian dari dokumentasi sejarah kepolisian Indonesia.
“Tentu saja. Saya pikir ini harus masuk ke Museum Sejarah Polri yang sekarang sudah berdiri di Jalan Trunojoyo. Saya pikir ini penting banget,” ujarnya.
Polisi dan Masyarakat Cianjur Terlibat dalam Sejarah Kemerdekaan
Hendi juga menyebut perjuangan kepolisian dan masyarakat Cianjur tidak berhenti pada momentum pengibaran Merah Putih. Setelah Indonesia merdeka, masyarakat Cianjur bersama berbagai unsur terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Salah satunya adalah perlawanan terhadap pasukan Inggris di kawasan Jembatan Ciscokan.
“Prestasi Polri Cianjur ini bukan hanya sekadar mendirikan atau mengibarkan bendera saja. Tetapi Polri selanjutnya kemudian terlibat dalam beberapa pertempuran di Cianjur untuk mempertahankan kemerdekaan. Salah satunya ketika melawan Inggris di Jembatan Ciscokan,” ungkapnya.
Menurut Hendi, peristiwa tersebut juga tercatat dalam literatur sejarah militer Inggris melalui buku The Battle for Ciranjang Gorge. Buku ini membahas perlawanan terhadap pasukan Inggris di kawasan tersebut.
“Peristiwa Jembatan Ciscokan itu tidak pernah juga dicatat dalam sejarah kemiliteran di Republik kita ini, sedikit sekali mencatat itu. Tetapi dalam sejarah militer Inggris itu sangat ditulis dengan bagus,” katanya.
Hendi menilai, pengungkapan kembali sejarah perjuangan Cianjur penting untuk membangun rasa percaya diri masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kita bukan masyarakat pecundang sebetulnya. Kita merupakan masyarakat yang memiliki sejarah besar dengan terlibat dalam berbagai perlawanan,” tegasnya.
Ia berharap melihat sejarah Cianjur tidak hanya dari sisi kerajaan, kadaleman, maupun masa kolonial. Tetapi juga dari kontribusi masyarakat Cianjur setelah Indonesia berdiri sebagai negara merdeka.
“Ketika Cianjur menjadi bagian dari Republik Indonesia, bagaimana kontribusi Cianjur terhadap Republik ini, orang luput untuk mengingat itu,” ujarnya.
Menurutnya, posisi Cianjur sebagai jalur strategis yang menghubungkan Jakarta dan Bandung menjadikan wilayah tersebut penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
“Cianjur pada saat itu merupakan salah satu rute yang paling strategis untuk dilewati dari Jakarta ke Bandung. Di sanalah terjadi pertempuran-pertempuran besar yang kemudian bukan hanya dicatat dalam buku-buku sejarah militer Inggris, tetapi juga dalam buku-buku sejarah Jepang dan Belanda,” pungkasnya.***















