CIANJUR TIMES, Cianjur – Pemerintah Kabupaten Cianjur menjadikan peringatan Hari Jadi ke-349 sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas pembangunan manusia. Langkah tersebut menjadi perhatian karena berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, Kabupaten Cianjur masih mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terendah di Jawa Barat dengan nilai 69,84.
Selain mencatat IPM terendah, rata-rata lama sekolah penduduk Cianjur juga berada pada posisi paling rendah di Jawa Barat, yakni 7,62 tahun atau setara kelas VIII SMP. Sementara itu, seluruh kabupaten dan kota lainnya di Jawa Barat telah mencatat IPM di atas 70 poin.
Bupati Cianjur dr. Muhammad Wahyu Ferdian mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah daerah bersama seluruh elemen masyarakat.
“Terkait IPM, kita menyadari Cianjur memang memiliki daerah yang luas, masyarakat banyak. Bukan daerah perkotaan tapi kabupaten,” ujar Wahyu usai mengikuti peringatan Hari Jadi Cianjur ke-349, Minggu (12/7/2026).
Menurut Wahyu, luas wilayah dan sebaran permukiman menjadi tantangan dalam pemerataan layanan pendidikan, kesehatan, serta pembangunan di berbagai wilayah Kabupaten Cianjur.
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah daerah akan terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, dan pembangunan daerah sebagai upaya meningkatkan IPM.
“Tentu jadi cita-cita kita semua untuk meningkatkan IPM. Kami bekerja keras demgam bantuan berbagai elemen masyarakat, menaikkan pendidikan, kesehatan, dan pembangunan. Semoga ke depannya IPM meningkat,” katanya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga meminta Pemerintah Kabupaten Cianjur memberi perhatian lebih terhadap akses pendidikan, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah selatan.
“Dorong anak-anak di selatan Cianjur untuk sekolah. Perbanyak layanan pendidikan, daerah mana yang jauh dari sekolah didata. Siapkan lahannya oleh kabupaten, nanti dibangun Pemprov,” ujar Dedi.
Menurut Dedi, peningkatan akses pendidikan menjadi salah satu langkah penting untuk memperbaiki kualitas pembangunan manusia di Kabupaten Cianjur.
Cianjur Pernah Menjadi Pusat Pemerintahan Priangan
Di tengah tantangan pembangunan tersebut, Wahyu mengingatkan bahwa Cianjur memiliki sejarah panjang sebagai salah satu daerah penting di Jawa Barat. Berdasarkan catatan sejarah, Cianjur pernah menjadi pusat pemerintahan Keresidenan Priangan pada masa pemerintahan kolonial sebelum pusat administrasi berpindah ke Bandung.
Menurutnya, semangat kejayaan masa lalu dapat menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas pembangunan di berbagai sektor.
“Ya, kalau menjadikan ibu kota lagi ya itu bukan kewenangan kami. Tapi yang jelas kita ingin mengembalikan lagi kejayaan Cianjur,” katanya.
Wahyu mengajak seluruh masyarakat ikut berperan dalam pembangunan daerah dengan memulai perubahan dari lingkungan terdekat.
“Termasuk juga membangun kesadaran kembali kepada masyarakat Cianjur, bahwa Cianjur ini milik kita bersama. Harus kita jaga bersama, kita bangun bersama,” ucap Wahyu.
Ia menambahkan, perubahan besar hanya dapat terwujud melalui kesadaran dan partisipasi seluruh masyarakat.
“Mulai dari diri sendiri, mulai dari keluarga kita, mulai dari lingkungan yang paling dekat dulu,” ujarnya.
Sementara itu, Dedi menilai Kabupaten Cianjur memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, potensi tersebut perlu adanya dukungan pengelolaan yang baik serta penguatan promosi daerah.
“Cianjur ini eksotik, memiliki gunung, laut, danau, produk pertanian unggulan, serta industri. Tidak semua daerah memiliki potensi seperti itu. Tinggal dikelola, branding dan rebranding-nya didorong,” pungkas Dedi.***










