Menu

Mode Gelap
Harga BBM Pertamina dan Swasta Kompak Turun, Berikut Daftar Lengkap per 20 Juli 2026 Lima Truk Tangki Air Bersih Siap Layani 14 Kecamatan Terdampak Kekeringan di Cianjur Polisi Gagalkan Tawuran Pelajar di Cibeber, Dua Siswa SMP Diamankan, Satu Bawa Sajam Kemarau Panjang Paksa Petani Cianjur Rogoh Rp100 Ribu per Lima Jam untuk Sedot Air Kolaborasi Digimom dan Battuta Kids Gelar Digiloka Kids Festival, Edukasi Anak Hadapi Era Digital DPRD Dorong Pemkab Cianjur Susun Regulasi Tindak Lanjuti Aturan Pemerintah Pusat tentang Disiplin ASN

Berita

Kemarau Panjang Paksa Petani Cianjur Rogoh Rp100 Ribu per Lima Jam untuk Sedot Air

badge-check


					Kemarau Panjang Paksa Petani Cianjur Rogoh Rp100 Ribu per Lima Jam untuk Sedot Air Perbesar

CIANJUR TIMES, Cianjur – Kemarau panjang yang melanda Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, memaksa petani mengeluarkan biaya tambahan hingga Rp100 ribu setiap lima jam untuk mengoperasikan pompa air. Meski terus menyedot air dari saluran irigasi dan sumur bantuan, sejumlah sawah tetap mengering dan sebagian lahan dipastikan mengalami gagal panen.

Ketua Kelompok Tani Sukamulya, Desa Sindangsari, Idan Didan, mengatakan berkurangnya pasokan air irigasi membuat petani tidak memiliki pilihan selain mengandalkan pompa air agar tanaman padi tetap bertahan.

Namun, tingginya biaya operasional menjadi kendala utama bagi para petani.

“Para petani sekarang masih berupaya menyedot air menggunakan mesin pompa dari saluran yang ada dan sumur bantuan BBWS. Kendalanya itu biaya operasionalnya, harus membeli token listrik atau solar untuk menghidupkan pompa,” ujarnya, Senin (20/7/2026).

Menurut Idan, biaya yang harus petani keluarkan tidak sedikit. Pengisian token listrik atau bahan bakar senilai Rp100 ribu hanya mampu mengoperasikan pompa selama sekitar lima jam.

“Kalau Rp100 ribu itu cuma cukup sekitar lima jam. Itu juga belum mencukupi untuk mengairi sawah,” katanya.

Produktivitas Petani Menurun

Selain menghadapi tingginya biaya operasional, petani juga mulai merasakan dampak langsung terhadap hasil produksi. Dari total 20 hektare lahan dalam pengelolaan Kelompok Tani Sukamulya, sekitar lima hektare mengalami puso atau gagal panen total. Sementara lahan lainnya masih dapat dipanen, tetapi produktivitasnya menurun akibat kekurangan pasokan air.

Idan menjelaskan kondisi tanah yang mengeras akibat kemarau membuat kebutuhan air meningkat. Air yang dari pompa lebih cepat meresap sehingga petani harus mengoperasikan mesin lebih lama untuk membasahi sawah.

“Tanahnya sudah terlalu keras dan terlalu kering, jadi air yang dibutuhkan lebih banyak. Kalau sudah begini, susah untuk membasahi sawah sehingga petani harus mengeluarkan biaya lebih besar lagi,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut semakin memberatkan petani karena mereka harus menanggung biaya tambahan di tengah ancaman penurunan hasil panen bahkan gagal panen.

Idan berharap pemerintah segera memberikan bantuan untuk meringankan biaya operasional pompa air, baik melalui subsidi listrik maupun bantuan bahan bakar. Ia menilai dukungan tersebut sangat petani butuhkan agar tetap mampu mempertahankan tanaman padi selama musim kemarau masih berlangsung.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Harga BBM Pertamina dan Swasta Kompak Turun, Berikut Daftar Lengkap per 20 Juli 2026

20 Juli 2026 - 21:31 WIB

Harga BBM Pertamina

Lima Truk Tangki Air Bersih Siap Layani 14 Kecamatan Terdampak Kekeringan di Cianjur

20 Juli 2026 - 20:54 WIB

kekeringan di cianjur

Polisi Gagalkan Tawuran Pelajar di Cibeber, Dua Siswa SMP Diamankan, Satu Bawa Sajam

20 Juli 2026 - 19:25 WIB

tawuran pelajar

Kolaborasi Digimom dan Battuta Kids Gelar Digiloka Kids Festival, Edukasi Anak Hadapi Era Digital

20 Juli 2026 - 08:33 WIB

Digiloka Kids

DPRD Dorong Pemkab Cianjur Susun Regulasi Tindak Lanjuti Aturan Pemerintah Pusat tentang Disiplin ASN

19 Juli 2026 - 23:27 WIB

disiplin sn
Trending di Berita