CIANJUR TIMES, Cianjur – Sebanyak 120 pelajar, mahasiswa, dan anggota organisasi kepemudaan dari 13 kecamatan di Kabupaten Cianjur mengikuti lokakarya kesehatan mental yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Putra Indonesia (UNPI) Cianjur. Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium Kampus UNPI, Jalan Dr. Muwardi Nomor 66, Kabupaten Cianjur.
Kegiatan ini hadir sebagai upaya meningkatkan literasi kesehatan mental di kalangan remaja, terutama di tengah tingginya tekanan sosial dan penggunaan media digital yang kian masif.
Tim peneliti UNPI menilai perlu adanya penguatan pemahaman mengenai kesehatan mental, karena masih banyak remaja yang belum mengenali kondisi emosinya sendiri dan enggan mencari bantuan ketika mengalami masalah psikologis.
BACA JUGA : Bupati Cianjur Dorong Pengembangan Wisata dan Pangan untuk Kemajuan Daerah
Selain itu, keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental profesional juga menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat, khususnya di daerah.
Lokakarya tersebut merupakan bagian dari program Hibah Penelitian DTPRM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Ketua Peneliti sekaligus pakar komunikasi terapeutik, Dr. Astri Dwi Andriani, memandu langsung sesi pelatihan yang berfokus pada pengenalan emosi, pengelolaan stres, serta teknik self healing yang dapat peserta terapkan secara mandiri.
“Dari hasil observasi kami, rata-rata peserta mengalami perubahan mood yang cukup signifikan, dari yang awalnya tegang dan cemas menjadi lebih rileks. Ini menunjukkan bahwa self healing bukan konsep abstrak, tetapi dapat terasa manfaatnya,” ujar Dr. Astri Dwi Andriani.
Belajar Mengenali Emosi dan Mengelola Stres untuk Kesehatan Mental
Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak memahami pentingnya menjaga kesehatan mental serta membangun kebiasaan yang dapat membantu mengelola tekanan emosional sehari-hari.
Selain itu, pemateri juga mengajak para peserta juga mengenal berbagai teknik sederhana, seperti mengenali pemicu stres, melakukan refleksi diri. Lalu mencatat perubahan suasana hati sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
Dr. Astri menilai kemampuan mengelola emosi secara mandiri menjadi bekal penting bagi remaja. Khususnya di tengah tantangan kehidupan modern dan derasnya arus informasi digital.
Kenalkan Aplikasi AI Wellness
Pada kesempatan yang sama, tim peneliti UNPI juga memperkenalkan aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Wellness.
Pengembangan aplikasi tersebut untuk membantu pengguna mencatat suasana hati, membuat jurnal harian. Serta memberikan rekomendasi aktivitas pengelolaan emosi berdasarkan data yang pengguna masukkan.
Anggota tim peneliti sekaligus pengembang aplikasi, Mochamad Fikri, mengatakan aplikasi tersebut dapat menjadi sarana pendamping bagi pengguna dalam mengenali kondisi emosinya.
“Kami tidak sekadar membuat aplikasi, tetapi membangun sistem yang dapat membantu pengguna mengenali pola emosinya dan memberikan rekomendasi yang sesuai,” kata Mochamad Fikri.
Ia menambahkan, pengembangan aplikasi akan terus berjalan agar fitur-fitur yang tersedia dapat semakin membantu pengguna dalam memantau kesehatan mentalnya.
Salah seorang peserta mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai pentingnya mengenali kondisi emosional diri sendiri.
“Biasanya saya tidak sadar kalau sedang stres. Setelah ikut kegiatan ini jadi lebih mengerti perasaan sendiri dan tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi ada aplikasinya, jadi bisa dilanjutkan di rumah,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, LPPM UNPI Cianjur berharap kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya kesehatan mental terus meningkat. Selain itu, pemanfaatan teknologi dapat menjadi salah satu sarana pendukung dalam membangun kebiasaan menjaga kesehatan mental secara mandiri.***










