CIANJUR TIMES – Geliat ekonomi di Kabupaten Cianjur menunjukkan tren positif dengan tercatatnya 60 ribu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang aktif hingga Januari 2026. Dinas Koperasi UMKM Perdagangan dan Perindustrian (Diskumdagin) Kabupaten Cianjur melaporkan bahwa puluhan ribu unit usaha ini tersebar merata di 32 kecamatan. Sektor yang mendominasi meliputi perdagangan, jasa, hingga industri kreatif seperti fashion dan kuliner olahan yang kini menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan.
Penyebaran unit usaha yang luas ini menandakan bahwa fondasi ekonomi mikro di Cianjur semakin inklusif dan menjangkau berbagai lapisan masyarakat. Dampaknya, serapan tenaga kerja lokal terus meningkat seiring dengan munculnya unit-unit usaha baru di tingkat desa. Pemerintah daerah pun terus berupaya agar potensi besar ini mendapatkan pendampingan yang tepat agar mampu naik kelas.
Produk UMKM Lokal Tembus Pasar Timur Tengah dan Global
Beberapa produk hasil pengembangan UMKM Cianjur bahkan sudah berhasil merambah pasar internasional dengan kualitas yang kompetitif. Pelaku usaha lokal kini rutin mengekspor komoditas seperti kopiah haji ke wilayah Timur Tengah serta gula semut ke berbagai negara lainnya. Keberhasilan ekspor ini membuktikan bahwa inovasi produk lokal mampu memenuhi standar kebutuhan pasar global yang sangat ketat.
Kepala Bidang UMKM Diskumdagin Cianjur, Henny Purwaningsih, menjelaskan bahwa keberagaman jenis usaha ini merupakan kekuatan utama daerah. Data menunjukkan adanya kolaborasi antara sektor produksi makanan dengan industri pakaian yang semakin berkembang pesat. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan para pelaku usaha, tetapi juga memperkuat citra produk asli Cianjur di kancah perdagangan dunia.
Sinergi Sektor Pertanian dan Program Pembinaan Strategis
Dinas Kumdagin Cianjur saat ini tengah memfokuskan program pengembangan UMKM Cianjur untuk bersinergi dengan sektor pertanian sebagai basis utama daerah. Strategi ini bertujuan menciptakan nilai tambah pada hasil bumi, seperti mengolah pisang menjadi tepung atau keripik berkualitas tinggi. Selain itu, komoditas unggulan seperti beras Pandanwangi, manisan, dan tauco tetap menjadi prioritas dalam rantai pasok industri olahan pangan lokal.
Pemerintah juga menyediakan berbagai pelatihan kemitraan guna menjembatani para pelaku usaha dengan jaringan toko modern dan perusahaan besar. Meskipun menghadapi tantangan efisiensi anggaran, instansi terkait tetap berkomitmen memberikan insentif berupa pelatihan keamanan pangan (PKP) dan fasilitasi izin PIRT.
“Diskumdagin tetap berkomitmen untuk melanjutkan program prioritas insentif UMKM dalam bentuk pelatihan dan bantuan,” ujar Henny Purwaningsih. Menurutnya, legalitas produk merupakan kunci utama agar pelaku usaha dapat mengakses pasar yang lebih luas secara tenang. Dengan adanya dukungan perizinan yang mudah, kedepannya ekosistem ekonomi di Cianjur akan tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan di masa depan.***












