CIANJUR TIMES – Masyarakat di kaki Gunung Gede Pangrango mengambil tindakan tegas dengan menyita dan menyegel satu unit alat berat yang melintasi pemukiman mereka. Aksi ini merupakan bagian dari gerakan penolakan proyek geothermal yang warga nilai tidak transparan dalam proses sosialisasinya. Warga menahan alat berat tersebut di Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, karena mencurigai adanya upaya pembukaan akses jalan secara sembunyi-sembunyi menuju lokasi proyek.
Warga merasa keberatan karena aktivitas alat berat tersebut berlangsung tanpa adanya pemberitahuan resmi kepada lingkungan setempat. Ketegangan sempat terjadi saat masyarakat menyadari bahwa pihak pengembang tetap menjalankan kegiatan meskipun sebelumnya sudah ada kesepakatan untuk menghentikan aktivitas sementara hingga dialog terlaksana.

Kronologi Penahanan Alat Berat di Kampung Pasircina
Aksi penyitaan ini bermula saat warga yang sedang melakukan ronda malam memergoki satu unit alat berat melintas di Kampung Pasircina pada Minggu (11/1/2026) dini hari. Alat berat tersebut masuk ke wilayah pemukiman di RT 02 dan RW 03 saat suasana masih sepi. Aryo Prima, salah satu tokoh warga, menyatakan bahwa warga langsung bergerak untuk menghentikan alat tersebut guna meminta penjelasan.
“Ketahuan ada alat berat itu oleh warga yang ronda malam. Alat berat tersebut melintas di jalan RT 02 dan RW 03,” jelas Aryo Prima pada Senin (12/1/2026).
Warga menduga kuat bahwa kehadiran alat tersebut bertujuan untuk memperlebar jalur yang semula sempit menjadi jalan utama proyek.
“Diduga untuk pelebaran jalan. Karena kan jalurnya sempit, sedangkan ke lokasi lebaran harus 12 meter. Dan yang kami sayangkan tidak ada pemberitahuan sebelumnya pada warga,” tambahnya.
Tuntutan Dialog dan Penegakan Kesepakatan Bersama
Masyarakat menegaskan bahwa penolakan proyek geothermal ini muncul karena adanya kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan rusaknya sumber mata air di kawasan Gunung Gede. Hingga Senin sore, warga masih menunggu kehadiran perwakilan pemerintah atau perusahaan untuk memberikan penjelasan secara terbuka. Karena tidak ada kepastian, warga akhirnya melakukan penyegelan terhadap alat berat tersebut agar tidak dapat beroperasi.
“Sebelumnya kami tegas menolak proyek ini. Apalagi beberapa hari lalu ada kesepakatan untuk dialog dengan semua pihak, dan hingga dialog terjadi tidak boleh ada aktivitas. Tapi malah dilanggar. Makanya kami sita dan tadi juga disegel oleh warga,” tegas Aryo Prima.***












