CIANJUR TIMES – Proyek reaktivasi jalur kereta Cianjur – Bandung kini memasuki babak baru dengan adanya perubahan rute yang signifikan. Pemerintah memutuskan untuk meninggalkan lintasan lama antara Cipatat dan Padalarang karena kondisi geografis yang dinilai terlalu ekstrem. Kontur tanah yang sangat terjal serta tingginya risiko bencana di jalur lama menjadi alasan utama pengalihan rute ini demi menjamin keselamatan operasional kereta api di masa depan.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menetapkan jalur alternatif yang akan menghubungkan Cipatat menuju Padalarang melalui Stasiun Sasaksaat. Rute baru ini nantinya akan bertemu dengan lintas Padalarang-Purwakarta, sehingga kereta tidak lagi melintasi Stasiun Tagogapu yang memiliki kemiringan medan cukup curam. Langkah ini diambil setelah tim teknis melakukan peninjauan langsung ke lokasi lahan di Kecamatan Cipatat.
Pembangunan Terowongan dan Jembatan di Jalur Baru
Untuk merealisasikan trase baru tersebut, Kemenhub telah memulai tahap perencanaan teknis melalui lelang proyek Detail Engineering Design (DED). Berdasarkan dokumen perencanaan, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp3,8 miliar guna merancang infrastruktur pendukung yang mumpuni. Jalur baru ini akan memiliki spesifikasi teknis khusus, termasuk pembangunan satu terowongan panjang serta dua jembatan baru untuk mengatasi tantangan alam di lapangan.
“Betul kami telah meninjau lokasi lahan yang akan dipakai rel baru. Jadi rencananya akan menggunakan trek baru karena trek lama itu rawan dari sisi kecuraman kontur tanah dan rawan bencana,” ujar Kepala Dinas Perhubungan Bandung Barat, Mochamad Ridwan Evi, melalui Kompas pada Jumat (9/1/2026).
Ia menambahkan bahwa penggunaan trek melalui Sasaksaat menjadi opsi paling rasional untuk kelanjutan operasional jalur kereta Cianjur – Bandung.
Dukungan Program Strategis Nasional dan Target 2027
Dinas Perhubungan Bandung Barat menyatakan dukungan penuh terhadap proyek ini karena masuk dalam daftar Program Strategis Nasional (PSN). Selain memperlancar mobilitas masyarakat, pemerintah berharap reaktivasi ini mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi di sepanjang koridor Cipatat hingga Padalarang. Pemerintah menargetkan proses pembangunan fisik jalur baru ini dapat mulai berjalan pada tahun 2027 mendatang.
“Kita akan support karena reaktivasi masuk program strategis nasional. Yang pasti Gubernur punya target pada 2027 proyek ini sudah mulai. Kalau kita mungkin fokus menangani perlintasan sebidang karena pasti demand meningkat,” kata Ridwan.
Saat ini, pihak Dinas Perhubungan mulai berkoordinasi dengan tiga kecamatan terdampak untuk membahas teknis pengadaan lahan dan aspek keselamatan di perlintasan sebidang.
“Saat kami meninjau dengan tim dari Kemenhub. Perkiraan kami ada beberapa jembatan dan 1 terowongan yang cukup panjang di jalur baru ini. Jadi lewat Sasaksaat,” pungkas Ridwan.***












