CIANJUR TIMES, Cianjur – Perselisihan hubungan kerja yang dialami Budi Cahyadi (47), warga Kampung Warung Danas, Desa Kademangan, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, mengubah arah hidupnya dalam beberapa bulan terakhir. Setelah lebih dari 11 tahun bekerja sebagai pengemudi ekspedisi di PT QL Agrofood, Budi kini mencoba menekuni dunia trading saham untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Budi mengaku mulai tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut setelah muncul persoalan terkait kebijakan operasional penggunaan aplikasi MyPertamina untuk pembelian bahan bakar armada. Menurutnya, kebijakan itu menimbulkan sejumlah kendala di lapangan yang kemudian para sopir sampaikan kepada manajemen.
“Kami menemukan banyak masalah, seperti saldo terpotong tetapi solar tidak keluar, aplikasi sering error dan tidak terbaca. Kami meminta agar penggunaan aplikasi ada evaluasi karena menghambat pekerjaan,” ujar Budi, Selasa (28/7/2026).
Ia mengatakan para pekerja sempat menyampaikan keluhan melalui grup WhatsApp perusahaan dan kemudian membuat surat resmi kepada manajemen. Setelah berlangsung mediasi, menurut pengakuannya, perusahaan sempat menyepakati penghentian sementara penggunaan aplikasi tersebut sambil adanya evaluasi.
Namun sekitar sepekan setelah mediasi, Budi bersama dua rekannya dipanggil ke bagian Human Resources Development (HRD). Dalam pertemuan itu, mereka menerima surat pemutusan hubungan kerja yang hingga kini masih mereka persoalkan melalui mekanisme penyelesaian perselisihan hubungan industrial.
“Kami menilai keputusan itu tidak adil sehingga memilih menempuh mekanisme penyelesaian sesuai aturan yang berlaku,” katanya.
Banting Setir jadi Trader Saham
Selama sekitar tiga bulan tidak lagi bekerja, Budi mengaku sempat kebingungan mencari sumber penghasilan baru. Kondisi tersebut mendorongnya mempelajari trading saham secara otodidak melalui media sosial, video edukasi, serta buku-buku investasi.
“Karena hidup harus terus berjalan. Saya belajar trading dari TikTok, Instagram, dan membaca buku-buku tentang saham. Saya tertarik karena perusahaan-perusahaannya jelas dan bisa dipelajari,” tuturnya.
Budi mengakui penghasilan dari trading tidak menentu dan jauh berbeda dibanding saat masih menerima gaji bulanan sebagai karyawan. Meski demikian, aktivitas tersebut perlahan menjadi sumber pemasukan utama bagi keluarganya.
“Kalau dulu kerja, gaji pasti masuk setiap bulan. Sekarang hasil trading bisa untung, bisa juga rugi. Tetapi alhamdulillah sejauh ini masih bisa membantu memenuhi kebutuhan istri dan dua anak saya,” ujarnya.
Ia berharap persoalan hubungan industrial yang ia lami bersama dua rekannya dapat selesai secara adil sesuai ketentuan perundang-undangan. Sambil menunggu proses tersebut berjalan, Budi memilih terus mengembangkan kemampuan di bidang trading saham sebagai jalan baru untuk mempertahankan perekonomian keluarganya.
Hingga berita ini tayang, Cianjur Times masih berupaya meminta konfirmasi kepada pihak PT QL Agrofood terkait pengakuan Budi mengenai proses pemutusan hubungan kerja tersebut.***










